Sunday, June 24, 2007

... The Only Clean Energy ...

Recently, at the winter 2005 meeting of the American Nuclear Society, Patrick Moore, founder of Greenpeace and keynote speaker at the conference, noted that "nuclear power is the only viable source of clean, non-carbon generating and efficient energy that can adequately sustain current and future economic growth without significant impact to the environment." This is a significant shift in the general attitude in the USA concerning the use, advancement and growth of nuclear science and technology in support of energy generation. This positive attitude towards nuclear power is also becoming the norm based on increasing public agreement that, in fact, greenhouse gas production is having an impact on the global climate.
=====================================================
Sebagai praktisi teknik nuklir, Saya harus secara fair menyatakan bahwa energi nuklir beserta perangkat teknologi majunya memang memiliki dua sisi penting yang harus menjadi perhatian semua pihak dalam upaya pemanfaatannya. Di satu sisi, energi nuklir adalah 'satu-satu-nya' enengi yang bersih (clean) karena tidak mengeluarkan CO2 yang selama ini menjadi 'biang keladi' terhadap proses penurunan kualitas (baca: perusakan) lingkungan hidup manusia, terutama kualitas stamosfir permukaan bumi kita. Di sisi lain, nuklir juga memiliki potensi yang cukup besar untuk merusak kehidupan manusia, jika terjadi kebocoran zat radioaktif ke lingkungan akibat kecelakaan yang terjadi. Pengelolaan limbahnya (radioactive waste management) juga menjadi salah satu aspek yang harus diperhatiakn dengan seksama, jika energi ini ingin benar-benar dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia.

Namun, dengan mengamati perkembangan pemanfaatan enegi nuklir secara masif di beberapa negara maju seperti Jepang, Prancis dan USA, kita akan melihat realita bahwa teknologi maju masa-kini (present advanced technologies) yang dimiliki oleh negara-negara itu telah membuktikan tingkat keamanan dan keselamatan yang sangat tinggi yang telah dicapai oleh teknologi reaktor nuklir. Berbagai disain inovatif reactor nuklir dan fasilitas Fuel Cycle lainnya telah dikembangkan secara sangat sempurna dan paripurna, sehingga berbagai aspek keselamatan (Safet Aspects) operasi teknologinya telah menunjukkan keberhasilannya selama ini.

Saturday, June 09, 2007

Transisi Energi

Prinsip Transisi Asimetrik mengatakan : "A transition from an unstable configuration to a stable one is possible, but the converse is not". Implikasi fundamental dari prinsip ini adalah : in asymmetric evolution, one direction of change from unstable to stable is more likely than the opposite direction. Karenanya, proses transisi secara natural selalu eksis dan berperan pada ketidakstabilan menuju kestabilan. Jika demikian, transisi akan selalu ada dan harus dimaknai secara positif sebagai fase menuju sebuah kestabilan baru dari titik kestabilan sebelumnya yang (mungkin) tengah mengalami proses gangguan kestabilan (disturbances). Agak rumit memang nampaknya. Tapi semoga Saya mampu menemukan kata-kata yang lebih simpel untuk melanjutkan obrolan ini (...ehemmm...).

Demikian juga dengan eksistensi energi dalam keseharain kita, sejak dulu kala, kini dan yang akan datang. Transisi energi selalu melibatkan prilaku manusia sebagai pemicu fundamentalnya. Aksi (prilaku) itu bisa lebih mendalam ditelusuri sebagai aktualisasi dari "segala sesuatu" yang ada dalam domain inteleksi dan spirit/jiwa manusia. Dan prinsip-prinsip "Quality, Productivity, Safety and Sustainability" yang menjadi karakter fundamental transisi energi ini, harus mendapatkan dukungan (support) yang berefek positif dari prilaku manusia secara kolektif.

Saturday, December 09, 2006

Teknologi Senjata Nuklir Non-Massal Masa Depan

Sejak amerika serikat melempar wacana perlunya pengawasan terhadap pengembangan senjata nuklir pembunuh massal ke publik internasional (bahkan jauh sebelum itu) dalam upaya menyampaikan alasan penyerangannya ke Irak (dan menumbangkan Sadam Hussein) hingga masalah pengayaan uranium oleh Iran, masyarakat dunia nampaknya menerima wacana konservatif tentang eksistensi senjata nuklir seperti itu, tanpa sikap kritis yang memadai. Hingga saat ini, sebagaimana wacana yang dilempar oleh negara-negara pemilik/pembuat senjata nuklir, bahwa senjata nuklir yang harus diwaspadai dan dicegah penyebarannya (proliferasi) adalah senjata nuklir pembunuh massal (massive nuclear weapons) yang biasanya konstruksinya menggunakan zat-zat radioaktif (uranium atau plutonium), sebagaimana digunakan untuk bahan bakar pembangkit energi nuklir (nuclear power plants). Penguatan wacana ini, juga dilengkapi dengan berbagai sejarah buruk pemanfaat senjata nuklir, seperti pengeboman Hiroshima dan Nagasaki saat perang dunia kedua (PD-II) oleh amerika serikat, juga dilengkapi dengan banyak sekali fenomena uji senjata nuklir oleh beberapa negera pembuat/pemilik teknologi dahsyat itu.

Namun, beberapa hari kemarin, publik internasional mulai dikejutkan oleh perkembangan terkini penggunaan teknologi senjata nuklir saat beredar publikasi kasus tewasnya Alexander Litvinenko, mantan agen rahasia Rusia yang tinggal di Inggris. Para pakar di negeri itu yakin, bahwa kasus pembunuhan Litvinenko ini melibatkan pengetahuan ilmiah yang sangat tinggi karena racun yang ditemukan dalam dosis tinggi di tubuh Litvinenko adalah zat radioaktif polonium-210 (210Po) dosis tinggi yang sangat sukar diperoleh dengan metode sederhana, kecuali melalui teknologi kimia atau nuklir yang canggih. Fenomena ini, setidaknya mulai membuka mata publik dunia bahwa ada kemajuan signifikan yang sangat membahayakan ummat manusia terkait dengan senjata nuklir mutakhir, yang tidak lagi berorientasi pada senjata pembunuh massal tapi mulai merambah domain target pembunuhan individual. Perkembangan ini, tentunya tidak kalah berbahayanya dengan teknologi senjata nuklir fase sebelumnya, karena dengan memanfaatkan teknologi ini, pihak-pihak tertentu yang menguasai teknologin itu dengan sangat apik dapat membunuh pihak-pihak yang secara spesifik menjadi musuh mereka. Target pembunuhan gaya baru ini bisa siapa saja, termasuk para pejuang kemanusiaan yang seringkali diidentifikasi sebagai musuh negara karena aktivitasnya (contoh kasus, pembunuhan Munir, Indonesia, 2005).

Meski teknologi saat ini memungkinkan lebih dari satu cara untuk memperoleh/memperoduksi material 210Po, tapi cara yang paling canggih dan relatif tidak mencurigakan adalah melalui teknologi reaktor nuklir yang dioperasikan untuk pembangkit energi. Dikatakan tidak mencurigakan karena material ini adalah hasil (yang awalnya tidak diharapkan, karenanya diupayakan teknologi dekontaminasinya) serta merta dari pengoperasian teknologi reaktor nuklir dengan jenis material pendingin metal-cair (liquid metal) bismuth (209Bi). Teknologi reaktor nuklir jenis ini juga masih terbilang langka di dunia. Meskipun untuk level R&D beberapa negara maju telah/sedang terus mengembangkannya, namun bisa dipastikan hanya sedikit negara yang saat ini telah memiliki secara mapan pada level operasi teknologi jenis ini. Salah satu negara yang sudah sangat maju untuk teknologi ini adalah Rusia, karena mereka telah mengembangakan teknologi reaktor nuklir berpendingin Lead-Bismuth (PbBi) sejak masa PD-II berkecamuk. Karena alasan itulah, tidak heran kalau beberapa pakar kimia nuklir maupun reaktor nuklir dari beberapa negara, di antaranya Inggris dan Amerika Serikat mengindikasikan keterlibatan Rusia dalam pembunuhan mantan agen KGB di Inggris ini.

Tulisan ini tidak ingin terjebak ke arah justifikasi ilmiah bahwa Rusia terindikasikan menjadi dalang dibalik pembunuhan Alexander Litvinenko. Namun setidaknya, peristiwa ini seharusnya mampu membuka mata publik dunia internasioanl, bahwa pola pembunuhan gaya baru dengan menggunakan racun zat-zat mematikan ke dalam makanan atau minuman seseorang (individu) yang menjadi target pembunuhan kian memasuki dunia keseharian masyarakat dunia tanpa diimbangi dengan tindakan pencegahan (preventif) yang memadai. Tambahan lagi, ketika zat-zat radioaktif yang sangat mematikan namun sulit dideteksi keberadaannya melalui teknologi sederhana, kini semakin umum dan secara liar digunakan, seharusnya publik dunia mulai menyadari hal ini. Tanpa kesadaran dan upaya membuka wacana secara clear dan fair, berarti membiarkan teknologi ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memilikinya bagi proses, panjang namun pasti, dekonstruksi peradaban dunia yang manusiawi ke arah sebaliknya. Padahal, menururt persfektif penulis, kita (masyarakat dunia) baru saja dalam taraf ingin melakukan rekonstruksi peradaban jenis itu di tengah-tengah maraknya dekadensi penghayatan nilai-nilai kehidupan yang universal.

Sunday, October 29, 2006

Energi & Peradaban

Adakah kaitan erat antara Energi dan Peradaban ? Jika YA, bagaimana konsep fundamental-relasional antara kedua nya ? Apakah skema kebijakan energi (Energy Policy) punya signifikansi aksional terhadap perkembangan sebuah peradaban ? Apakah juga level/kemajuan sebuah peradaban akan berkonsekuensi pada pola kebijakan energi (Nasional, Regional, maupun Internasioanl) tertentu yang sustainable bagi perkembangannya ? Mari kita telusuri bersama. Saya akan berpendapat, dan Anda, para Pengunjung Blog ini, silahkan secara leluasa ikut serta memperbaiki dan memperkaya gagasan sederhana Saya dalam tema ini.

....bersambung ...